Tampilkan postingan dengan label KIMIA(XII). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KIMIA(XII). Tampilkan semua postingan

Senin, 16 April 2012

praktikum elektrolisis(KIMIA XII)



Tujuan : Untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada elektrolisis larutan garam Natrium sulfat dan Kalium yodida.
Alat dan Bahan :

Alat dan Bahan Ukuran/satuan Jumlah
Tabung U - 2
Elektroda karbon dan kabel 0,5 m 2/2
Baterai/catudaya 1,5 V 4/1
Jepit buaya - 4
Statif dan klem - 1/1
Tabung reaksi dan rak - 4/1
Pipet tetes - 1
Gelas kimia 100 cm3 3
Larutan Natrium sulfat 0,5 M 50 cm3
Larutan Kalium yodida 0,5 M 50 cm3
Fenoftalein - Sebotol
Indikator universal

Larutan kanji/amilum

Cara Kerja :
  1. Pasang alat elektrolisis.
  2. Elektrolisis larutan Na2SO4.
Tambahkan 10 tetes indikator universal ke dalam ± 50 cm3 larutan Na2SO4 dalam gelas kimia. Tuangkan larutan ini ke dalam tabung U sampai 1,5 cm dari mulut tabung. Celupkan elektroda karbon ke dalam masing-masing tabung U, dihubungkan kedua elektroda dengan sumber arus searah 6 V selama beberapa menit. Catat perubahan warna yang terjadi dalam kedua kaki tabung U itu.
  1. Elektrolisis larutan KI.
  2. Masukkan larutan KI ke dalam tabung U sampai 1,5 cm dari mulut tabung. Celupkan kedua elektroda karbon ke dalam masing-masing kaki tabung U dan hubungkan elektroda itu dengan sumber arus searah 6 V selama ± 5 menit. Catat perubahan yang terjadi  pada tiap-tiap elektroda.
  3. Keluarkan dengan hati-hati kedua elektroda, cium baunya dan catat.
  4. Pipet 2 cm3 larutan dari ruang katoda ke dalam 2 tabung reaksi tambahkan setetes penoftalein pada tabung 1 dan beberapa tetes larutan Amilum pada tabung 2.
  5. Ulangi cara kerja ini dengan larutan dari ruang anoda. Amati dan catat yang terjadi.
    1. Elektrolisis larutan Na2SO4.
Hasil larutan + indicator universal
  1. Sebelum dielektrolisis?
  2. Sesudah dielektrolisis
  • Pada ruang katoda?
  • Pada ruang anoda?
Pembahasan :
  1. Na2SO4 → 2 Na+ + SO42- + 10 tetes indikator universal
A (+)                : 2 H2O → 4 H+ + O2 + 4 e
K (-) : 2 H2O + 2 e → 2 OH- + H2
Na2SO4 + 6 H2O → 2 Na+ + SO42- + 4 H+ + 4 OH- + O2 + 2 H2
Katoda           : NaOH + gas H2
Anoda            : H2SO4 + gas O2
2. KI → K+ + I-
A (+)                : 2 I- → I2 + 2 e
K (-) : 2 H2O + 2 e → 2 OH- + H2
2 KI + 2 H2O → 2 K+ + I2 + 2 OH- + H2
2 KI + 2 H2O → 2 KOH + I2 + H2
Katoda           : KOH + gas H2

Dasar Teori :
Sel elektrolisis merupakan kebalikan dari sel volta. Dalam sel elektrolisis, listrik digunakan untuk melangsungkan reaksi redoks tak spontan. Sel elektrolisis terdiri dari sebuah electrode, elektrolit, dan sumber arus searah. Electron memasuki sel elektrolisis melelui kutub negatif (katoda). Spesi tertentu dalam larutan menyerap electron dari katoda dan mengalami reduksi. Sedangkan spesi lain melepas electron di anoda dan mengalami oksidasi.
Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katoda, yaitu reduksi, dan reaksi anoda, yaitu oksidasi. Spesi yang terlibat dalam reaksi katoda dan anoda bergantung pada potensial elektroda dari spesi tersebut. Ketentuannya sebagai berikut.
  • Spesi yang mengalami reduksi di katoda adalah spesi yang potensial reduksinya terbesar.
  • Spesi yang mengalami oksidasi di anoda adalah spesi yang potensial oksidasinya terbesar.
Sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu:
  1. Elektrolisis larutan elektrolit.
  2. Elektrolisis larutan non elektrolit.
Elektroda dalam sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu:
  1. Elektroda inert/tidak aktif (elektroda karbon, platina, dan emas)
  2. Elektroda selain inert/aktif.
Kesimpulan :
  1. Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katoda (reduksi) dan reaksi anoda (oksidasi).
  2. Sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu elektrolisis larutan elektrolit dan elektrolisis leburan elektrolit.
  3. Elektroda dalam sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu elektroda inert dan elektroda selain inert.
Daftar Pustaka
  • Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.

praktikum titik beku larutan(KIMIA XII)




Tujuan : Untuk mengetahui titik beku beberapa larutan.

Alat dan Bahan :

Alat dan Bahan
1. Neraca 6. Air
2. Tabung reaksi 7. Es batu
3. Sendok 8. Urea 1 M dan 2 M
4. Pengaduk 9. Garam
5. Gelas kimia 10. NaCl 1 M dan 2 M
Cara Kerja :
  1. Masukkan butiran-butiran es batu dalam gelas kimia plastic sampai kira-kira ¾ nya. Tambahkan 4 sendok makan garam dapur. Aduk campuran ini dengan pengaduk. Campuran ini ada campuran pendingan.
  2. Isi tabung reaksi dengan air suling sebanyak 5 ml. Masukkan tabung ke dalam gelas kimia berisi campuran pendingin sambil mengaduk campuran pendingin sampai air membeku seluruhnya.
  3. Keluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin. Dengan hati-hati aduklah campuran dari tabung itu dengan menggunakan termometer secara naik turun. Bacalah termometer dan catat suhu campuran es dan air. Ulangi cara kerja 2 dan 3 dengan menggunakan larutan urea 1 M dan 2 M, larutan NaCl 1 M dan 2 M sebagai pengganti air suling.
Pengamatan :
Zat Tf °C Δ Tf °C
Air 2 0
Urea 1 M 0 2
Urea 2 M -2 4
NaCl 1 M -2 4
NaCl 2 M -5 7
Δ Tf = Tfp – Tfl
Dasar Teori :
Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi perubahan wujud zat cair ke padat. Pada tekanan 1 atm, air membeku pada suhu 0 °C karena pada suhu itu tekanan uap air sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku (Δ Tf = freezing point depression). Pada percobaan ini ditunjukkan bahwa penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan. Oleh karena itu, penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
Pengamatan dan Perhitungan :
No. Zat Terlarut Titik Beku Perbedaan Titik Beku
Rumus Massa Mol Kemolaran Air Larutan
1. CO (NH2)2 180 3 1 0 0 2
2. CO (NH2)2 180 3 2 0 -2 4
3. NaCl 117 2 1 0 -2 4
4. NaCl 117 2 2 0 -5 7
Kesimpulan :
  1. Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi peristiwa perubahan wujud zat cair ke padat.
  2. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku (Δ Tf = Tfp – Tfl).
  3. Penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentarsi partikel dalam larutan.
  4. Penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
  5. Larutan elektrolit memiliki titik beku lebih rendah dibanding larutan nonelektrolit.
Daftar Pustaka
Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.

praktikum uji protein(KIMIA XII)



Tujuan :

  1. Mengetahui adanya ikatan peptida dalam protein dengan tes biuret.
  2. Mengetahui adanya inti benzena dengan uji Xanthoproteat.
  3. Mengetahui adanya ikatan belerang (S) dengan uji Timbal asetat.
Alat dan Bahan :
Alat dan Bahan
Gelas kimia Agar-agar
Pipet tetes Gelatin
Tabung reaksi Kapas
Penjepit tabung Larutan Tembaga (II) asetat 1% (CuSO4)
Kaki 3 dan kasa Larutan Natrium hidroksida 6 M (NaOH)
Spatula kaca Larutan Natrium hidroksida 3 M (NaOH)
Gelas Ukur Larutan Timbal (II) asetat {Pb (CH3COO)2}
Susu Larutan CH3COOH 3 M
Cara Kerja :
  1. Uji biuret
Jika positif (+) akan berwarna ungu.
  • Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan ± 2-3 tetes CuSO4. Kemudian masukkan 1 ml NaOH 0,1 M. amati perubahan yang terjadi.
  • Ulangi cara kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas. Bila ada yang tidak larut setelah ditambahkan NaOH, panaskan dahulu beberapa menit hingga semua larut, lalu dinginkan.
  1. Tes Xanthoproteat
Untuk mendeteksi ada tidaknya inti benzena.
Jika positif (+) berwarna kuning jingga.
  • Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2 tetes HNO3 pekat, panaskan selama ± 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah dingin masukkan NaOH 6 M tetes demi tetes hingga berlebih. Amati perubahan yang terjadi.
  • Ulangi cara kerja tersebut dengan menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas.
  1. Uji Timbal asetat
Untuk menguji ada tidaknya ikatan belerang (S).
Jika positif (+) akan berwarna kehitaman.
  • Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 0,5 ml NaOH 6 M dan panaskan ± 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah itu masukkan 2 ml CH3COOH 3 M. tutup tabung reaksi dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan  Pb(CH3COO)2. Panaskan ± 2 menit. Amati perubahan yang terjadi.
  • Ulangi langkah kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas.
Hasil Pengamatanm :
Bahan Uji Biuret Uji Xanthoproteat Uji Timbal asetat
Putih telur Ungu (+) Oranye (+) Tidak hitam (-)
Susu Ungu (+) Oranye (+) Hitam (+)
Gelatin Ungu (+) Kuning (+) Hitam (+)
Agar-agar Ungu (+) Oranye (+) Hitam (+)
Kapas Biru (-) Putih bening (-) Hitam (+)
Kesimpulan :
  1. Ikatan peptida bereaksi dengan larutan biuret akan berwarna ungu. Sedangkan yang tidak berwarna ungu berarti mengandung glikosida.
  2. Inti benzena bereaksi dengan larutan Xanthoproteat akan berwarna kuning jingga.
  3. Ikatan S bereaksi dengan larutan Timbal asetat akan berwarna hitam pada kertas saring.