Keteladanan al-Imam at-Tirmidzi dalam Menuntut Ilmu
Para pembaca,
semangat tinggi dan pantang menyerah dalam menuntut ilmu merupakan sikap
terpuji yang telah dicontohkan dan diwariskan oleh para ulama pada
setiap generasi. Simaklah penuturan Ibnul Jauzi rahimahullah,
“Para pendahulu dari kalangan ulama memiliki semangat yang tinggi (dalam
menuntut ilmu agama). Bukti akan hal ini ditunjukkan dalam karya ilmiah
mereka yang merupakan inti sari dari perjalanan hidup mereka.” (Lihat Shaidul Khathir)
Dalam edisi ini kita akan mengenal figur al-Imam at-Tirmidzi
rahimahullah yang memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu, hingga mengantarkannya menjadi salah satu tokoh ulama pada zamannya.
Nama dan Kelahiran Beliau
Beliau adalah Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa bin adh-Dhahhak as -Sulami adh-Dharir al-Bughi at-Tirmidzi
rahimahullah.
As-Sulami adalah penyandaran kepada Bani Sulaim, sebuah kabilah dari Ghailan. Beliau
rahimahullah mengalami kebutaan pada kedua matanya, oleh karena itulah digelari dengan
adh-Dharir. Terjadi silang pendapat di kalangan para ulama tentang sejak kapan beliau
rahimahullah mengalami kebutaan. Pendapat yang benar adalah bahwa beliau
rahimahullah mengalami kebutaan pada saat usia senja.
Beliau
rahimahullah dilahirkan pada bulan Dzulhijjah tahun
209 Hijriyah (824 Masehi) di sebuah negeri yang terletak di belakang
sungai Jaihun (kini sungai Amu Darya) – dikenal sebagai tempat kelahiran
pakar ulama hadits semisal al-Imam al-Bukhari
rahimahullah dan al-Imam Muslim
rahimahullah
– di sebuah kota yang bernama Tirmidz tepatnya di sebuah desa yang
bernama Bughi. Jarak antara kampung Bughi dengan kota Tirmidz sekitar 6
farsakh. Beliau
rahimahullah adalah seorang
hafizh
(orang yang menghafal sekurang-kurangnya 100.000 hadits), ahli fikih,
seorang yang ‘alim (memiliki ilmu agama yang luas), cerdas, seorang imam
(panutan umat), memiliki sifat zuhud dan
wara’.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Sejak kecil, beliau
rahimahullah sudah gemar mempelajari
ilmu agama dan mencari hadits. Untuk kebutuhan tersebut ia pun
mengembara ke berbagai negeri seperti Khurasan, Irak (Bashrah, Kufah,
Baghdad), Hijaz (Makkah dan Madinah), Wasith dan ar-Ray. Beliau
rahimahullah memulai perjalanan menuntut ilmu pada tahun 234 Hijriah.
Dalam lawatannya ke berbagai negeri, beliau
rahimahullah
banyak mengunjungi para ulama hadits untuk mendengar, menghafal dan
mencatat hadits, baik ketika dalam perjalanan atau tiba di suatu tempat.
Setelah menempuh pengembaraan yang panjang, akhirnya beliau
rahimahullah kembali ke kota Tirmidz dan wafat di sana.
Beliau
rahimahullah memiliki beberapa keistimewaan, di antaranya adalah:
1. Semangat tinggi dalam menuntut ilmu, hingga tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menuntut ilmu walau dalam kondisi apapun.
2. Memiliki kekuatan hafalan.
Diriwayatkan oleh al-Imam adz-Dzahabi
rahimahullah di dalam
Siyaru A’lamin Nubala` dan al-Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah dalam
Tahdzibut Tahzib sebuah kisah dari Ahmad bin ‘Abdillah bin Abi Dawud bahwasanya ia berkata, “Saya mendengar Abu ‘Isa at-Tirmidzi
rahimahullah
berkata, ‘Suatu ketika saya sedang dalam perjalanan menuju Makkah. Dan
ketika itu saya telah menulis dua jilid kitab berisi hadits-hadits yang
berasal dari seorang syaikh (guru). (secara kebetulan) Syaikh tersebut
berpapasan dengan kami. Lalu saya pun bertanya perihal syaikh tersebut.
Mereka menjawab bahwa dia lah orang yang saya maksud. Kemudian saya
menemuinya. Saya mengira bahwa dua jilid kitab itu ada padaku. Ternyata
yang saya bawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain
yang mirip dengannya. Ketika saya telah bertemu dengannya, saya memohon
untuk mendengar hadits darinya. Dan ia pun mengabulkan permohonan
tersebut. Kemudian ia membacakan hadits yang dihafalnya. Di sela-sela
pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang
masih putih bersih tanpa ada tulisan apa pun. Demi melihat hal ini, ia
berkata, ‘Tidakkah engkau malu kepadaku?’ Lalu aku pun menjelaskan
kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah kuhafal semuanya. ‘Coba
bacakan!’ Suruhnya. Lalu aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun.
Ia bertanya lagi, ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang
kepadaku?’ ‘Tidak,’ jawabku. Kemudian saya meminta lagi agar ia
meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh
buah hadits yang tergolong hadits-hadits yang
gharib (asing),
lalu berkata, ‘Coba ulangi apa yang kubacakan tadi,’ lalu aku
membacakannya dari pertama sampai selesai; dan ia berkomentar, ‘Aku
belum pernah melihat orang seperti engkau.” Al-Imam al-Bukhari
rahimahullah sendiri pernah mencatat hadits dari beliau.
Di antara guru-guru beliau adalah al-Imam al-Bukhari, al-Imam Muslim,
al-Imam Abu Dawud, Qutaibah bin Said, Ishaq bin Rahuyah, Abu Kuraib
dll. Kemudian di antara murid-murid beliau adalah Abu Bakar Ahmad bin
Ismail as-Samarqandi, Abu Hamid Ahmad bin Abdillah al-Marwazi, Ahmad bin
Yusuf an-Nasafi, al-Husain bin Yusuf al-Farabri dll.